Terlalu Lama Menjadi Nahkoda

catatan ruang pendampingan konseling

Oleh Chichi Sukardjo
Konselor Psikologi Islami berbasis Asmaul Husna

Rabu, 29 Juli 2026

 

Bismillahirrahmanirrahiim

Sahabat, dalam ruang konseling saya mendapati beberapa perempuan yang tidak pernah benar-benar diberi pilihan dalam menjalani hidup.

Pelan-pelan ia belajar menjadi kuat. Belajar mengambil keputusan. Belajar mengurus keluarga. Belajar membesarkan anak. Belajar merawat orang tua. Belajar menjaga semuanya tetap berjalan. Lalu… tanpa disadari, menjadi nahkoda bukan lagi sebuah peran, melainkan kebiasaan. Padahal… setiap nahkoda juga ingin bersandar. 😊☺️

 

Setiap orang yang tampak kuat sesungguhnya juga ingin berjalan bersama. Bukan selalu berada di depan. Bukan selalu memikul semuanya sendirian.

 

Sahabat, tiga catatan sederhana berupa slide di bawah ini lahir dari ruang-ruang pendampingan itu. Dari percakapan yang jujur. Dari air mata yang sering kali tidak pernah terlihat orang lain. Dan dari harapan bahwa setiap perjalanan hidup tidak harus dilalui sendirian.

Semoga, saat membacanya, kita diingatkan kembali bahwa kekuatan bukan berarti harus selalu memimpin. Kadang, kekuatan justru hadir ketika kita berani menerima uluran tangan, berbagi beban, dan menikmati perjalanan bersama orang-orang yang Allah ‘Azza wa Jalla hadirkan dalam hidup kita.

 

Sahabat, terima kasih sudah membaca. Mungkin… ada sebagian kisahmu yang sedang menunggu untuk dipeluk di sana. Karena hidup bukan perlombaan mencari siapa yang paling kuat, melainkan perjalanan pulang, bersama mereka yang saling menguatkan. ☺️🙏🌿

Sepakat?

 

Takzim,

-@csukardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *