Oleh Chichi Sukardjo
Konselor Psikologi Islam berbasis Asmaul Husna
Kamis, 13 Agustus 2026
Bismillahirrahmanirrahiim
Sahabat, pernahkah Anda merasa sangat lelah, padahal pekerjaan hari itu ngaak terlalu banyak? Sebaliknya, pernah juga adahari-hari ketika tubuh hampir kehabisan tenaga, tetapi hati tetap terasa ringan. Saya sering bertanya-tanya, mengapa bisa gitu ya? Hhmmmm…
Lama-kelamaan saya menyadari bahwa manusia tidak hanya membutuhkan tenaga untuk menjalani hidup. Kita juga membutuhkan alasan mengapa kita tetap melangkah. Iya nggak? Itu sih yang saya pahami sebagai makna hidup.
Sahabat, dalam kacamata saya, makna hidup bukan selalu tentang melakukan sesuatu yang besar. Bukan juga sekadar mencapai cita-cita atau memperoleh penghargaan. Makna hidup sering kali hadir dalam hal-hal yang sederhana, lhoo…. Misalnya nih:
Aktivitasnya sih boleh jadi kelihatan biasa saja. Namun, ketika hati mengetahui mengapa ia melakukannya, langsung terasa berbeda.
Dalam psikologi, pencarian makna merupakan salah satu kebutuhan penting manusia. Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi, menulis bahwa manusia mampu bertahan menghadapi penderitaan ketika ia masih menemukan makna dalam hidupnya.
Saya sering membayangkan, betapa berat pengalaman yang beliau lalui. Kedua orang tua, saudara kandung, istri, dan anaknya semua mati dalam kamp konsentrasi. Namun, dari sana lahirlah pelajaran bahwa keadaan tidak selalu dapat kita pilih, tetapi sikap terhadap keadaan masih dapat kita usahakan.
Sahabat, pemikiran Frankl itu terasa sangat dekat dengan ajaran Islam yang saya ketahui. Sebagai seorang muslim, makna hidup tidak hanya lahir dari apa yang kita inginkan. Makna hidup juga bertumbuh ketika kita menyadari bahwa setiap langkah berada dalam ilmu dan kasih sayang Ilahi Robbi.
- Ada hari-hari ketika kita tidak memahami mengapa sebuah peristiwa harus terjadi.
- Ada doa yang belum dikabulkan.
- Ada kehilangan yang belum bisa diterima.
- Ada rencana yang berubah di luar harapan.
Pada saat-saat seperti itulah saya sering bertanya, “Apa makna yang sedang Allah ‘Azza wa Jalla titipkan melalui peristiwa ini?”
Pertanyaan itu tidak selalu menghadirkan jawaban dengan cepat. Perlahan, ia mengubah cara kita memandang kehidupan. Kita tidak lagi hanyabertanya, “Mengapainiterjadi padasaya?”. Melainkanmulai melontartanya, “Untuk kebaikan apa saya sedang dipersiapkan?”
Dalam Refleksi Asmaul Husna®, pencarian makna tidak berhenti pada memahami diri sendiri. Ia mengajak kita mengenal Allah ‘Azza wa Jalla melalui setiap perjalanan hidup. Misalnya:
- Ketika kita merenungkan Yā Hakīm, kita belajar percaya bahwa kebijaksanaan Allah sering kali melampaui pemahaman kita.
- Ketika kita mengingat Yā Hādī, kita percaya bahwa selalu ada petunjuk, meskipun jalan di depan belum sepenuhnya terlihat.
Makna hidup akhirnya bukan sesuatu yang kita temukan sekali untuk selamanya. Makna hidup adalah perjalanan yang terus bertumbuh, seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan kedekatan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Mungkin itulah sebabnya, makna hidup bukan membuat semua persoalan menjadi ringan, tetapi membuat hati memiliki alasan untuk tetap melangkah. Sahabat, selama Allah ‘Azza wa Jalla masih memberi kesempatan untuk bernapas hari ini, Insya Allah masih ada sejumlah kebaikan yang dapat kita lakukan, masih ada pelajaran yang dapat kita pahami, dan masih ada kasih sayang yang dapat kita sebarkan kepada sekitar kita.








Tinggalkan Balasan