Oleh Chichi Sukardjo
Konselor Psikologi Islam berbasis Asmaul Husna
Selasa, 11 Agustus 2026
Bismillahirrahmanirrahiim
Sahabat, pernah nggak sih, setelah marah kita justru menyesal? Atau sebaliknya, ada kata-kata yang ingin sekali kita sampaikan, tetapi akhirnya kita tahan. Bukan karena takut, melainkan karena sadar bahwa mengucapkannya saat itu hanya akan memperkeruh keadaan.
Kalau pernah mengalaminya, selamat! Kita sama. Kita sedang belajar menjadi manusia.
Tau nggak, sering kali orang mengira emosi adalah musuh. Padahal bukan emosinya yang menjadi masalah, lhoo! Marah, sedih, takut, kecewa, bahkan cemas adalah bagian dari kehidupan. Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan manusia dengan kemampuan merasakan semua itu. “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir.” (Q.S. Al-Ma‘ārij/70: 19)
Yang sering menjadi persoalan adalah apa yang kita lakukan setelah emosi itu muncul. Ada orang yang langsung bereaksi. Ada yang memilih diam, tetapi menyimpan luka bertahun-tahun. Ada pula yang mampu berhenti sejenak, menarik napas, lalu memilih respons yang lebih bijaksana.
Kemampuan inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai regulasi emosi. Sederhananya, regulasi emosi adalah kemampuan mengenali apa yang sedang kita rasakan, memahami mengapa emosi itu muncul, lalu memilih cara yang tepat untuk meresponsnya.
Sahabat, coba fokus sebentar yaaa… Mengapa saya menggunakan kata memilih? Karena regulasi emosi bukan berarti menekan perasaan. Bukan pula berpura-pura selalu bahagia. Regulasi emosi justru memberi ruang bagi kita untuk berkata, “Ya, saya sedang sedih.” Atau, “Saat ini saya sedang marah.” Setelah itu, kita bertanya pada diri sendiri, “Apa respons terbaik yang bisa saya berikan?”
Pertanyaan sederhana itu sering kali mengubah banyak hal, lho!
Dalam dunia psikologi, kemampuan mengelola emosi berkaitan dengan kesehatan mental, kualitas hubungan, kemampuan mengambil keputusan, hingga ketahanan menghadapi tekanan hidup. Orang yang mampu mengatur emosinya cenderung lebih mudah berpikir jernih ketika menghadapi situasi yang sulit.
Namun Sahabat, sebagai seorang konselor psikologi Islam, saya melihat ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting, yaitu: “Setelah saya mengenali emosi ini, kepada siapa hati saya akan kembali?”
Di sinilah saya memandang Asmaul Husna memiliki peran yang istimewa.
Ketika hati dipenuhi rasa takut, mungkin kita perlu lebih sering mengingat Al-Mu’min, Sang Maha Pemelihara. Yang Maha Memberi Rasa Aman.
Saat merasa sangat bersalah, mungkin hati sedang diajak mengenal Al-Ghafūr, Yang Maha Pengampun.
Ketika kesabaran terasa hampir habis, mungkin kita sedang belajar bersama Ash-Ṣabūr, Yang Maha Sabar.
Bukan karena satu Asmaul Husna akan menghapus semua emosi yang kita rasakan. Melainkan karena mengingat Allah ‘Azza wa Jalla membantu kita melihat emosi dari sudut pandang yang lebih luas. Emosi akhirnya tidak lagi menjadi penguasa, tetapi menjadi tamu yang membawa pesan:
- Barangkali kemarahan sedang mengingatkan bahwa ada nilai yang kita anggap penting.
- Barangkali kesedihan sedang mengajarkan bahwa kita pernah mencintai.
- Barangkali rasa takut sedang mengajak kita menyadari bahwa sebagai manusia, kita memang memiliki keterbatasan.
Melalui refleksi itulah, emosi perlahan berubah dari sesuatu yang ingin kita hindari menjadi sesuatu yang dapat kita pahami.
Regulasi emosi bukan tentang menjadi manusia yang selalu tenang. Regulasi emosi adalah proses belajar agar emosi tidak mengambil alih kendali hidup kita. Dan bagi saya, Sahabat, salah satu cara terindah untuk memulainya adalah berhenti sejenak, mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, lalu bertanya, “Asma Allah apa yang sedang saya butuhkan hari ini?”
Mungkin jawabannya berbeda bagi setiap orang. Namun, justru di situlah perjalanan refleksi dimulai.
Takzim,
-@csukardjo








Tinggalkan Balasan