Oleh Chichi Sukardjo
Konselor Psikologi Islami berbasis Asmaul Husna
Senin, 3 Agustus 2026
Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Sahabat, kita mengenal bahwa tubuh kita memiliki hormon bahagia. Tahukah Anda, bahwa hati juga perlu penenangnya lhooo.
Misalnya nih, pernahkah Anda merasa begitu bersemangat menyelesaikan sebuah pekerjaan? Atau tiba-tiba hati terasa hangat ketika dipeluk orang yang kita sayangi? Ada kalanya pula, setelah berjalan kaki, berenang, atau tertawa bersama teman, pikiran menjadi lebih ringan. Saya banget tuuh… 😊🤭💪💪
Sahabat, Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan tubuh kita dengan sangat menakjubkan. Di dalamnya ada berbagai zat kimia alami yang membantu kita tetap bersemangat, tenang, merasa dicintai, hingga lebih mampu menghadapi tekanan hidup. Di dunia psikologi dan kedokteran, kita mengenalnya sebagai hormon dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin.
Namun, sebagai seorang muslim, saya sering bertanya pada diri sendiri.
Kalau tubuh memiliki hormon yang menenangkan, lalu siapa yang menenangkan hati? 🙄
Tau nggak siiih…. Al-Qur’an telah menjawabnya jauh sebelum ilmu saraf berkembang. Coba deh cek ayat yang satu ini: “…Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d/13: 28)
Ayat ini mengingatkan saya bahwa tubuh dan hati memiliki kebutuhan yang berbeda, tapi saling melengkapi. Tubuh membutuhkan makanan bergizi, istirahat, gerak, sinar matahari, dan hubungan yang sehat agar hormon-hormon alaminya bekerja dengan baik. Sedangkan hati membutuhkan hubungan dengan Penciptanya.
Sahabat, dari sinilah saya mulai mengembangkan Reflektif Asmaul Husna (RAH®). Bukan karena saya menganggap Asmaul Husna menggantikan ilmu psikologi atau kedokteran lhooo… enggak! Justru sebaliknya. Saya melihat keduanya dapat saling melengkapi.
Saat seseorang belajar mengenal Allah melalui Asmaul Husna, ia tidak sekadar menghafal 99 nama-Nya. Ia belajar membangun hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla melalui refleksi, doa, dan latihan yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh,
- Ketika seseorang merasa kehilangan semangat, ia dapat mengingat Yā Mujīb, Yang Maha Mengabulkan doa dan harapan.
- Saat hati dipenuhi kegelisahan dan membutuhkan rasa cukup, ia dapat merenungkan Yā Waddūd, Yang Maha Penuh Kasih.
- Ketika hubungan dengan orang lain sedang terasa rapuh, ia dapat kembali mengingat Yā Rahīm, Yang Maha Penyayang.
- Dan ketika hidup terasa berat, Yā Laṭīf mengingatkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memiliki kelembutan yang sering kali bekerja dengan cara yang tidak selalu kita sadari.
Saya nggak bilang bahwa menyebut satu Asmaul Husna akan langsung meningkatkan kadar hormon tertentu. Hingga hari ini, ilmu pengetahuan belum menunjukkan hubungan sebab-akibat yang sesederhana itu. Namun, saya percaya (haqqul yaqin) ketika seseorang semakin dekat kepada Allah, belajar menerima, berserah, bersyukur, dan memaknai ujian hidupnya, kondisi psikologisnya dapat berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan itulah yang kemudian dapat didukung oleh berbagai mekanisme alami tubuh yang memang telah Allah ciptakan.
Karena itu sahabat, menurut saya niih…, kita tidak perlu memilih antara psikologi dan spiritualitas. Keduanya dapat berjalan beriringan.
Tubuh dirawat dengan ilmu.
Hati dirawat dengan dzikir.
Dan keduanya adalah amanah dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Renungan Hari Ini
Tubuh memiliki hormon bahagia.
Hati juga memerlukan dzikir penenangnya.
Mungkin hari ini kita sudah berolahraga, makan lebih sehat, atau beristirahat sejenak.
Jangan lupa memberi waktu CUKUP 1 MENIT untuk menyebut nama-Nya.
Sebab, tubuh yang sehat akan membantu kita beribadah. Dan hati yang tenang akan membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih lapang. Insya Allah 💙🙏
Takzim,
-@csukardjo






Leave a Reply