Ingat Aceh & Sumatra​

·

·

Bau Menyan…

adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna.  Ditulis tiap Senin dan Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.

“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”

Ingat Aceh & Sumatra

Kamis, 18 Desember 2025

Sahabat,
bagaimana cuaca di kotamu hari ini?

Di Jakarta, hujan masih sama seperti pekan-pekan lalu.
Turun deras, angin kencang, dingin, lalu gerah.

Lengkap dengan notifikasi “hujannya deras ya, hati-hati”
yang sering datang
setelah kita kehujanan. 😊

Di beberapa titik, air menggenang.
Banjir menjadi kabar yang berulang.

Dari Aceh dan Sumatra, kabarnya lain.
Hujannya turun dengan cara yang berbeda.

Tidak tergesa.
Tidak gaduh.

Ia jatuh pelan,
seolah tahu tanah di bawahnya
sudah terlalu sering memikul beban.

Aaah…

Di warung kopi, orang duduk lebih lama.
Bukan karena lupa waktu,
apalagi karena tidak ada kerjaan,
melainkan karena cerita memang
tidak bisa dikejar-kejar.

Tentang sawah yang tergenang.
Tentang jalan yang putus.
Tentang saudara di seberang kampung
yang belum sempat ditengok,
bukan karena lupa,
melainkan karena sama-sama sedang bertahan.

Di sana, duka jarang dipamerkan.
Tidak diberi filter.
Tidak diberi tagar.

Ia disimpan rapi.
Lalu dibagi pelan-pelan
dalam kalimat pendek
dan tatapan mata.

Psikologi menyebutnya communal coping:
cara bertahan
yang tidak mengandalkan “aku”,
melainkan “kita”.

Saat satu orang goyah,
yang lain mendekat.
Tidak selalu membawa solusi besar.
Seringnya hanya:
hadir.

Berbeda dengan ritme kota yang serba cepat,
di banyak sudut Indonesia hari-hari ini
kita sedang belajar kembali satu hal penting:

Empati bukan perasaan pasif.

Ia bergerak.
Ia mengetuk pintu.
Ia mengantarkan makanan.
Ia bertanya dengan suara pelan,
“Aku ada sedikit mie kuah.
Mari makan bersama.”

Kadang kita lupa,
peduli tidak harus dramatis.

Ia bisa sesederhana
tidak menambah beban.
Tidak menyindir.
Tidak berlalu begitu saja.

Di tengah dunia yang gemar berkomentar,
barangkali yang paling dibutuhkan
justru tindakan kecil
yang nyata.

Sahabat,
yuk, tarik napas perlahan.
Kita tidak sedang berlomba.

(Tarik napas.
Tahan sebentar.
Hembuskan.)

Ya Al-Barr,
Engkau yang meluaskan kebaikan lewat tindakan,
gerakkan kami
untuk peduli tanpa ribut,
membantu tanpa pamer,
dan hadir tanpa perlu diumumkan.

(Tarik napas sekali lagi. Tahan dan hembuskan.)

Robbana,
cukupkan kami hari ini
dengan satu kebaikan kecil
yang Kau ridhoi.

Aamiin Allahuma aamiin.

Takzim,
@csukardjo


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *