Bau Menyan…
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
Senin, 16 Maret 2026
Bismillah ….
Hari ini aku berusia 60 tahun lhoooo… Iiih beneran nggak nyangka, ternyata tua juga ya akyuuuhh… hihihi…
Angka yang dulu waktu aku masih remaja, terasa seperti sesuatu yang sangat jauh. Di masa itu, aku sering melihat orang tua—termasuk bapakku—menggelengkan kepala ketika melihat tingkah anak muda. Waktu itu aku sering berpikir, “Ah… orang tua memang begitu. Terlalu serius.”
Sekarang, setelah sampai di usia yang sama, aku mulai memahami sesuatu. Ternyata gelengan kepala itu bukan karena marah, bukan juga karena merasa paling benar, melainkan sering kali gelengan itu muncul karena satu hal sederhana: mereka sudah melihat pola hidup manusia berulang-ulang.
Drama yang sama.
Kesalahan yang sama.
Kebanggaan yang sama.
Kejatuhan yang sama.
Yang beda? hanya nama orangnya.
Di usia muda, kita sering merasa hidup kita sangat unik. Padahal setelah cukup lama hidup, kita mulai melihat bahwa manusia sebenarnya berjalan di lingkaran cerita yang mirip.
Ada yang jatuh karena ego.
Ada yang lelah karena terlalu ingin diakui.
Ada yang tersesat karena lupa bertanya kepada Tuhan.
Dan ketika melihat semua itu, kadang kita hanya bisa menggeleng kecil. Bukan karena merasa lebih pintar, tetapi karena kita tahu satu rahasia kecil: hidup ini sering mengajarkan pelajaran yang sama berkali-kali… sampai manusia benar-benar mau belajar.
Di usia 60 ini, aku mulai mengerti kenapa banyak orang tua menjadi lebih tenang. Bukan karena hidupnya sudah selalu mudah, justru karena mereka sudah terlalu sering melihat badai datang dan pergi.
Akhirnya mereka sadar bahwa:
tidak semua hal perlu diperdebatkan,
tidak semua hal perlu dimenangkan.
Ada banyak hal yang lebih baik didoakan saja.
Kalau dulu aku sering bereaksi cepat terhadap banyak hal, sekarang aku lebih sering tersenyum kecil. Kadang sambil menggeleng kepala juga. Oh… jadi begini rasanya…
Mungkin inilah salah satu hadiah tersembunyi dari usia 60: kita mulai melihat dunia dengan jarak yang lebih tenang.
Masalah masih ada.
Manusia tetap aneh.
Tapi hati tidak lagi mudah panik.
Karena kita sudah tahu satu hal penting: hidup selalu berjalan lebih jauh daripada drama yang sedang kita alami hari ini.
Dan jika perjalanan panjang ini meninggalkan sedikit aroma di belakangku, biarlah. Tidak perlu harum seperti taman bunga. Cukup seperti debu yang mengingatkan orang untuk berhenti sebentar dan berpikir.
Cukup…
Takzim,
–@csukardjo

Leave a Reply