Bau Menyan...
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
Senin, 9 Maret 2026
Bismillah ….
Hari ini aku tepat 60 tahun. Iiiihhh…. Ngeri nggak sih? Ngeri beneraaaan…., tauuuk! Tapi tetap harus dihadapi dengan gagah perkasa, bukan? Hihihihi…
Tubuhku mulai memberikan tanda-tanda yang dulu tidak pernah ada.
Bangun tidur kadang terasa seperti membuka aplikasi lama:
loading-nya, man….! Lemoott hahaha …
Lutut kadang berbunyi.
Pinggang kadang protes.
Kalau dulu olahraga supaya sehat.
Sekarang olahraga supaya bisa berdiri dengan normal.
Lucunya, di saat badan mulai sedikit “rewel”,
kepala justru makin penuh ide.
Tiba-tiba ingin menulis buku lagi.
Ingin punya HAKI.
Ingin membuat program baru.
Ingin membantu orang yang lagi patah semangat.
Ingin kuliah lagi.
Ingin hapal Al-Quran.
Ingin ini, ingin itu… Pokoknya banyak dehhh!
Kadang aku sendiri bingung.
Ini yang tua sebenarnya tubuhnya atau pikirannya?
Psikologi perkembangan punya istilah untuk fase ini:
manusia mulai ingin meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.
Artinya, hidup tidak lagi sekadar tentang “aku”.
Tapi tentang:
apa yang bisa kutitipkan kepada dunia sebelum waktuku pulang.
Masalahnya, dunia kadang lucu.
Ada orang yang baru umur 30 sudah merasa selesai.
Sudah malas belajar.
Sudah capek bermimpi.
Sementara di usia 60, aku malah merasa seperti baru menemukan kembali rasa ingin tahu.
Mungkin ini rahasianya: bukan umur yang membuat manusia tua.
Yang membuat manusia cepat tua adalah ketika ia berhenti bertanya.
Berhenti belajar.
Berhenti peduli.
Padahal hidup selalu punya kejutan.
Kadang menyenangkan.
Kadang bikin kita mengelus dada sambil berkata,
“Ya Allah… ini ujian lagi?”
Tapi justru di situlah hidup terasa hidup.
Maka di usia 60 ini aku membuat keputusan kecil:
Aku akan tetap menulis.
Tetap belajar.
Tetap tertawa melihat keanehan manusia.
Termasuk keanehan diri sendiri, tentuuuunyaaa…. Karena aku paling suka tuh, menertawakan kebodohan diri sendiri. Wuahahahaaaaa …
Kalau badan protes? Ya kita dengarkan.
Kalau hati lelah? Kita istirahat.
Tapi kalau ide masih datang… jangan diusir.
Karena mungkin itu tanda kecil bahwa Tuhan masih berbisik,
“Masih ada yang bisa kau lakukan.”
Dan selama bisikan itu masih ada,
aku ingin tetap berjalan.
Pelan tidak apa-apa.
Yang penting tidak berhenti.
Kalau jalanku nanti meninggalkan aroma kecil di belakangku, biarlah.
Tidak perlu wangi bunga.
Cukup…
Selamat Ulang Tahun Dirikuuuu…. Ai lap yuuuu puoool!
Takzim,
–@csukardjo
