Bau Menyan...
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
The Broken Strings: Ketika yang Patah Bukan Alat Musiknya, Tapi Jiwa
Kamis, 22 Januari 2026
Bismillah ….
Sahabat, bagaimana cuaca hatimu hari ini?
Semoga dalam kondisi tenang, damai dan senantiasa bersyukur yaa…
Apakah engkau mendengar suara-suara riuh di luar sana? Suara apakah itu? Senar gitar? Denting piano? Kita pasang telinga dan hati yuukk…
Ah… ah… ah… bunyi itu seperti ada sesuatu yang patah.
Tapi bukan karena senarnya rusak atau pun tuts-nya lepas,
melainkan karena ada yang retak…
Di The Broken Strings, yang rusak itu terlihat seperti alat musiknya, bendanya.
Padahal yang benar-benar remuk, sering kali orang yang memainkannya lhoo…
Sahabat,
kita ini hidup di dunia yang suka bilang: “Ayo kuat.”
Padahal tidak semua yang patah perlu dikuatkan.
Sebagian cuma perlu diakui aja, kok.
“Capek ya? Nggak pa-pa klo kamu sekarang lelah.”
Dalam psikologi, luka yang tidak diberi ruang akan mencari jalan sendiri.
Kadang lewat marah.
Kadang lewat diam.
Kadang lewat kelelahan yang kita salah sangka dan disebut sebagai: malas.
Sahabat,
Yang patah tidak selalu minta diperbaiki cepat-cepat.
Seringnya cuma minta ditemani.
Ironisnya, kita jago merawat barang rusak,
tapi gagap saat berhadapan dengan jiwa yang retak.
Padahal, justru di sanalah cerita dimulai.
Kamu tau nggak, ada orang yang terlihat baik-baik saja, tapi di dalamnya ada senar yang putus satu.
Tidak kelihatan.
Tidak berdarah.
Tapi sejak itu, nadanya berubah.
Dan lucunya,
masyarakat sering lebih nyaman dengan suara yang “normal”,
daripada mendengar musik jujur dari jiwa yang pernah terbelah.
Kita lupa, bahwa musik yang paling indah justru sering kali lahir dari ketidaksempurnaan.
Sahabat,
ada fase hidup kita masing-masing yang tidak minta solusi.
Hanya minta tidak diremehkan. Dicemooh. Dihakimi.
Kalau hari ini kamu merasa seperti alat musik dengan senar putus,
bukan berarti kamu gagal berfungsi, lho!
Bisa jadi kamu sedang belajar berbunyi dengan cara baru.
Tuhan tidak selalu mengganti senar yang patah.
Kadang Dia menyetem ulang tangan yang memainkannya dengan lembut.
Pelan.
Bahkan kadang, nyaris tak terdengar.
Sahabat,
Tidak semua yang patah harus kembali seperti semula.
Sebagian cukup menjadi versi lain yang lebih jujur.
Dan kalau hari ini nadamu terdengar aneh,
mungkin itu bukan kesalahan.
Mungkin itu tanda, bahwa jiwamu sedang belajar lagu baru.
Yuukk…. kita tarik nafas panjang, tahan lalu buang perlahan… lantukan doa dengan Asmaul Husna:
Ya Jabbār…
Jika hatiku patah,
aku ikhlas …. hamba pasrah.
Engkau-lah Yang Mampu Memperbaiki yang retak
dan hamba tunduk pada perintah-Mu.
Duhai Robbana,
Jika yang retak
masih bisa berfungsi,
masih bisa berharap,
masih bisa mencinta,
dengan cara yang Engkau ridai…
tolong aku untuk memperbaiki caraku berlaku dalam menjalani hidup.
Jika nadaku berubah,
biarlah ia berubah
menjadi lebih jujur,
lebih lembut,
dan lebih dekat kepada-Mu.
Ya Jabbār,
tolong perbaikilah hamba-Mu yang lemah ini.
Aamiin ya Robbal aalamiin.
Takzim,
–@csukardjo
