Bau Menyan...
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
Senin, 9 Februari 2026
Bismillah ….
Sahabat,
seberapa akrab dirimu dengan stres?
Tahu nggak sih, banyak banget dari kita yang ogah nerima stres, apalagi bila stres datang tanpa diundang. Tanpa permisi. “Permisi, saya stres mau mampir…” Hihihi, langsung kabur deh akyuuuh!
Tapi menurutku nih, cara terbaik melepas stres adalah dengan menerima kehadirannya. Lalu tanya pelan-pelan, “Mau ke mana kita, stres?”
Lho, kok malah diterima dulu?
Hehehe… awalnya emang bener sih respon ini terdengar aneh. Soalnya refleks kita kalau stres muncul itu jelas: diusir, ditolak, atau ditekan sampai pura-pura nggak ada. Padahal makin diusir, stres biasanya makin betah.
Kayak tamu yang dibilang, “bentar aja kok,” eh dia malah nambah cemal-cemil. Hihihi…
Dalam psikologi, stres sejak lama nggak selalu dianggap musuh, lho.
Hans Selye bahkan membedakan stres menjadi dua: eustress dan distress.
Eustress itu stres yang menggerakkan:
bikin fokus,
bikin siaga,
bikin hidup tetap jalan.
Distress itu stres yang menggerogoti:
bikin lelah,
bikin sumpek,
bikin pengin menyerah.
Masalahnya niiih…. kita sering keburu marah ke semua stres, tanpa sempat nanya: “Ini kamu lagi bantu aku, atau lagi nyuruh aku berhenti sebentar?”
Makanya, menurutku menerima kehadiran stres itu perlu, bukan berarti pasrah. Tapi melembutkan sikap sebelum bereaksi. Di titik itu, pertanyaan kecil tadi jadi penting: “Mau ke mana kita, stres?”
Karena stres yang diajak ngobrol biasanya akan menurunkan volume. Dari teriak-teriak, jadi berbisik.
Kadang dia cuma mau ngingetin: kamu tuh terlalu ngebut.
Kadang mau bilang: ini bukan arah yang sehat.
Dan kadang… dia cuma pengin diterima dulu, baru deh dilepasin.
Sahabat,
Stres yang diperlakukan dengan lembut lebih mudah berubah jadi eustress.
Yang dilawan sambil emosi, lebih sering berubah jadi distress.
Dan mungkin di situlah kuncinya: melepas stres bukan dengan kekerasan, tapi dengan kelembutan. Karena ada Yang Maha Lembut dalam menyentuh batin manusia: tidak memaksa pergi, tidak mengusir, hanya hadir… sampai kita siap melepas.
Al-Laṭīf.
Saat stres bertandang hadir, yuk…. tarik nafas panjang Ya Laṭīf ….. tahan sebentar… dan embuskan perlahan sambil mengingat Yang Maha Lembut, Ya Laṭīf. Ulangi selama 1 menit yaa …
Takzim,
–@csukardjo
