Ramadhan Udah Nyampe Lagii…

ramadhan telah tiba

Bau Menyan...

adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna.  Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.

“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”

Senin, 2 Maret 2026

Bismillah ….

Sahabat,
Ramadhan udah nyampe lageee…

Kita udah nyampe mana kenal Ramadhan?

Belom move-on juga? Hihihi …

 

Ramadhan datang lagi, kita udah sampai mana, sob?

Menurutku niiih…. Ramadhan itu seperti tamu tahunan yang sopan tapi jujur. Datang tanpa ribut, tapi selalu nanya hal yang sama:

“Aku sudah datang lagi.
Kamu masih di situ-situ aja?”

Dalam psikologi, ini disebut self-reflection moment — momen ketika waktu berhenti sebentar dan kita dipaksa bercermin.

 

Masalahnya, banyak dari kita rajin menyambut Ramadhan, tapi malas menyambut perubahan.
Puasa jalan, rutinitas jalan, tapi pola emosi… ya tetap gitu-gitu aja.

Kata psikologi, ini namanya automatic living: hidup dijalani sambil autopilot.
Umur nambah, tapi kesadaran belum tentu ikut tumbuh.

 

Puasa memang bikin lapar dan haus. Itu urusan perut.
Tapi puasa justru membuka tantangan yang lain, mulai dari emosi gampang naik, pikiran gampang curiga,
dan ego gampang tersinggung. Hihihi…. Kamu gitu nggak?

Lucunya, kita kuat menahan lapar berjam-jam,
tapi sering kalah menahan komentar satu menit.

Nasarudin Hoja versi Ramadhan nyeletuk begini: “Aku berhasil menahan makan. Tapi gagal menahan merasa paling benar.”

 

Puasa itu sebenarnya eksperimen psikologis paling jujur lho, sob.
Saat asupan fisik dikurangi, isi batin muncul ke permukaan.
Kita jadi sadar: yang kita butuhkan bukan cuma makanan, tapi pengendalian diri.

Ramadhan tidak menuntut kita langsung suci.
Psikologi pun sepakat, perubahan sejati itu bertahap.
Yang penting bukan cepat berubah, tapi mau berhenti sejenak dan sadar: oh, aku masih perlu belajar.

Dan di titik itulah, Allah tidak datang dengan hardikan,
tapi dengan kasih yang menenangkan.

Dalam Asmaul Husna, kita kenal: 🤍 Ar-Ra’ūf — Yang Maha Pengasih.
Yang menuntun manusia berubah bukan dengan paksaan,
melainkan dengan kelembutan.

 

Takzim,
@csukardjo

 

Yuk, Mulai Healing Dirimu Sekarang!