Pundung Fisabilillah

bau menyan

Bau Menyan...

adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna.  Ditulis tiap Senin dan Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.

“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”

Pundung Fisabilillah

Kamis, 11 Desember 2025

Bismillah ….

Sahabat, dalam hidup, ada satu fenomena yang tidak pernah masuk kurikulum kampus,
tapi dirasakan oleh banyak orang baik yang hatinya halus dan pikirannya cepat capek, ‘Pundung Fisabilillah’ alias: pundung tapi tetap menjaga akhlak. Pernah dengar?

Ini bukan pundung ngambek. Bukan mutung. Bukan drama. Ini… seni menghilang demi keselamatan batin dan kesehatan gula darah. Kok bisa? Mungkin gitu dalam hatimu bertanya.

Yuk kita kupas, dengan wangi menyan dan sedikit ilmu psikologi. Siap?

1. Pundung Bukan Karena Marah

Tolong dicatat yaa …. seseorang yang mengalami pundung fi sabilillah bukan tipe lempar pintu. Mereka tipe yang kalau ditanya, “Kenapa diam?”. Jawabannya santai: “Gakpapa. Aku cuma pengen istirahat bentar.”  Lalu rebahan dan pura-pura mati 3 jam. Hihihi …

2. Pundung Karena Grup WA

Ini pemicu klasiknya:

Grup WA bunyi ngetrilkayak motor Mio di tengah malam
Ada broadcast MLM tiba-tiba
Ada poster seminar yang “kayaknya penting tapi kayaknya enggak juga”
Ada ajakan rapat jam 22.30 WIB
Ada “kontribusi 50 ribu yaa bestiee”

Tubuh langsung deh aktifin mode: “Hampura… aku undur diri dulu.”. Lalu slowly press mute 1 year. Kamu pernah ngalamin? Hehehe …

3. Pundung Karena Otakmu Canggih

Nah yang ini psikologis beneran. Mengapa seseorang bisa pundung? Menurut para psikolog, biasanya sosok ini adalah orang yang high empathy + high sensitivity.

Social battery cepat habis
Otaknya overthinking lembut
Radar energi sosialnya tajam banget
Kepekaan spiritual tinggi dari lahir
Kemampuan membaca vibe lebih cepat dari WiFi tercanggih buatan manusia

Akibatnya? Hal kecil yang bagi orang lain biasa, buat kamu yang high empathy & sensitive, itu serius bikin capek banget-banget. Makanya pundung tuh muncul sebagai mekanisme: self-protection dari kebisingan sosial.

Hmmm … apa lagi ya? Mau ditambah?

4. Pundung Karena Anti Drama

Drama kecil aja bisa bikin kamu tuh pusing, vertigo kumat pada hal-hal:

Pasif agresif
“Aku nggak marah kok :)” padahal marah
Debat gak selesai-selesai
Orang sok paling benar
Grup yang hidup dari gosip
Komunitas yang sibuk seremonial

Langsung auto switch ke: mode: zen, menghilang supaya tetap sopan dan berakhlak. Ini bukan kabur. Ini metode self-compassion.

5. Pundung Karena Terlalu Banyak “Membaca Getaran”

Seseorang yang lembut itu suka mikir:

“Eh dia tersinggung gak ya?”
“Aku salah ngomong gak ya?”
“Energinya kok beda ya?”
“Ini komunitas sehat gak sih?”

Lima menit kemudian, dia fix. Pundung dulu ya. Ini otomatis. Ini canggih. Ini EQ tingkat dewa  kombinasi dengan keletihan sosial.

6. Pundung = Batasan Sehat

Sahabat, dalam psikologi modern, ini disebut: Healthy Detachment alias memisahkan diri tanpa drama. Bukan menarik diri dari orang, cuma melindungi ketenangan batinnya.  Itu tanda kedewasaan emosional, bukan pencitraan lhooo …!

Kesimpulannya nih, kalau komunitas itu mendekatkan kepada Allah Azza wa Jalla, aku ikut. Tapi bila sebaliknya, dia akan berdoa:

“Ya Latif, ajarkan hamba untuk mengambil keputusan yang kadang perlu mengambil jarak, bukan menjauh … agar hamba tetap bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama (hablumminnanas) ….  Aamiin Allahuma aamiin.”

 

Takzim,

-@csukardjo

Yuk, Mulai Healing Dirimu Sekarang!