Ulasan Buku Gubernur Kuli Panggul

Gubernur Kuli Panggul

Tanda Kasih...

Catatan renunganrenungan ini

dipersembahkan untuk seorang

sahabat,

yang selalu ada di saat riang maupun gundah;

guru,

yang dengan sabar membimbing, mengarahkan

dan mengajak diskusi;

dan sekaligus bapak,

yang penuh cinta kasih melindungi,

Ayahnda tercinta: H. Sukardjo bin Kartoredjo.

Semoga Allah SWT memberikan tempat yang

baik disisi-Nya,

Amien.

Pesan-Pesan 90 Detik Chichi
Sampai Secara Sangat Menyentuh

Membaca judul buku ini, Gubernur Kuli Panggul, langsung mengundang rasa ingin tahu saya karena belum pernah sebelumnya mendengar ungkapan dengan kombinasi kata-kata seperti ini. Kisah gubernur Salman al-Farisi tersebut memang gambaran orang rendah hati yang, walaupun memegang jabatan tinggi sangat patut menjadi teladan kerena bersahajanya. Ini memang kejutan-kejutan yang menyenangkan dari pengarang, yang tersebar di dalam kumpulan ini, seperti “Hak Asasi Badan”, “Khasiat Ludah”, “Azab Suatu Jabatan”, “Mengingat Keranda Kubur”, “Kejujuran Susu Kambing” dan seterusnya diantara 100 judul yang tersedia untuk dibaca.

Tapi pada dasarnya Chichi Sukardjo bukan berniat mau mengejut-ngejutkan kita dengan judul-judul itu. Dia cuma bertutur dengan lembut tentang hal-hal keseharian kepada kita lewat radio 5 @ Sec FM sejak awal 1998 hingga 2001 ini. Renungan-renungannya merupakan pengamatannya tentang kehidupan sehari-hari, disampaikan dalam waktu sangat singkat yaitu 90 detik saja. Tapi ternyata sesudah diturunkan menjadi naskah tertulis, keringkasannya itu terbukti mampu mencakup sebuah pengertian yang utuh. Chichi Sukardjo berhasil mengatasi tekanan deadline dan kerangkeng waktu yang 90 detik itu, dan sesudah melalui medium audio, kini melintasi medium aksara dengan sukses pula. Pilihan dari 1300 naskah tentu sangat berpengaruh pula terhadap mutu koleksi tulisan ini.

Barangkali akan lain jadinya kalau Chichi memulai karirnya lewat medium aksara. Dia akan cenderung berpanjang-panjang. Lewat medium audio ini dia bisa sangat ekonomis dalam kata-kata, dengan pilihan yang lebih ketat ketimbang dalam aksara. Tapi ini soal teknis. Dalam soal isi, yang lebih primer, ternyata Chichi punya fondasi bacaan yang kuat. Dia sangat memerlukan itu. Tanpa literatur, tanpa rujukan bacaan yang luas, renungan-renungan ini akan kekurangan bobotnya.

Tapi yang lebih terasa lagi adalah ciri feminimnya. Dengan pesannya sampai secara lebih menyentuh. Selamat untuk Chichi.


Jakarta, 15 Februari 2001

TAUFIQ ISMAIL

Yuk, Mulai Healing Dirimu Sekarang!