Bau Menyan...
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
Mens Rea: Ketika Ketawa Disangka Niat Jahat
Kamis, 29 Januari 2026
Bismillah…
Sahabat,
Masih ingat qoutenya Gus Dur yang terkenal, “Tertawalah sebelum tawa itu dilarang.”
Sepakat?
Sekarang gimana? Udah mulai ada larangan untuk tertawa belum?
Ketawa dikit langsung ditanyain: “Kamu nggak empati ya?”
Ketawa agak keras: “Iihh … kurang adab!.”
Ketawa sendirian: “Eh… kamu baik-baik aja kah?”
Hihihi…. lucu ya?
Kita ini hidup di era yang bangga dengan mental health awareness, tapi alergi sama ekspresi paling manusiawi, yaitu: tertawa. Padahal, sering nggak sih yang bikin kita masih sanggup bangun pagi itu bukan motivasi, tapi satu tawa kecil sambil bergumam dalam hati, “Ya sudahlah… masih untung bisa hidup.”
Sahabat,
Udah nonton Mens Rea-nya Panji? Seruuuu yaa…?
Dalam hukum, mens rea itu niat batin. Kalau ketawa langsung divonis, berarti niat batinnya dianggap jahat dong ya?
Masalahnya: kebanyakan tawa bukan niat meremehkan, melainkan niat menyelamatkan kewarasan.
Humor reflektif-satir ala Panji Pragiwaksono emang sering bikin gelisah. Bukan karena lucunya kebablasan. Tapi karena kita dipaksa melihat hal yang selama ini kita tutup rapat. Yang tersinggung itu sering kali bukan korban, melainkan ego yang ketahuan telanjang. Eeehhh…. Ssttt!
Sahabat,
Seingat saya waktu kuliah Psikologi, ilmu Psikologi tuh nggak nyuruh kita jadi badut. Tapi Psikologi paham satu hal: humor adalah mekanisme bertahan tingkat dewasa. Humor yang sehat ituu:
membantu regulasi emosi
menurunkan ketegangan saraf,
membuka sudut pandang baru saat otak mentok
Orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri biasanya bukan orang yang belum pernah terluka,
melainkan orang yang sudah capek pura-pura kuat.
Humor itu bukan menertawakan masalah. Humor itu berkata pelan: “Aku tahu ini berat. Tapi aku masih sadar.”
Sahabat,
kamu tahu nggak kalau Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam tuh juga suka humor lhooo…
Kanjeng Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam tidak mematikan spontanitasnya sahabatnya—Nu’aiman—yang sering kali menjadikan beliau sebagai bahan becandaan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam mengarahkan dengan lembut,
tidak mempermalukan,
tidak memojokkan,
tidak menjadikan orang lain objek.
Humor yang menguatkan jiwa, bukan memenangkan debat.
Sahabat,
Jika hari ini kamu tertawa di tengah hidup yang kusut, itu bukan tanda kamu kurang peduli. Bisa jadi itu tanda kamu cukup sadar untuk tidak ikut tenggelam. Yang perlu dijaga bukan larangan tertawa, melainkan niat batinnya. Karena Allah itu Al-Baṣīr, Maha Melihat isi hati. Al-Laṭīf, Maha Lembut. Ar-Raḥmān, Maha Mengasihi.
Allah ‘Azza wa Jalla tidak menilai iman dari berapa kali kamu tertawa, melainkan dari apa yang kamu lakukan setelahnya.
Kadang, tertawa adalah bentuk syukur paling jujur: syukur karena belum tumbang, syukur karena masih bisa bernapas tanpa drama heroik.
Takzim,
–@csukardjo
