Oleh Chichi Sukardjo
Konselor Psikologi Islami berbasis Asmaul Husna
Ahad, 31 Mei 2026
Bismillahirrahmanirrahiim
Ada satu pertanyaan sederhana yang sering muncul dalam benakku: mengapa manusia modern semakin canggih, tetapi jiwanya semakin lelah?
Kita hidup di zaman ketika ilmu berkembang begitu cepat. Psikologi modern membantu manusia memahami perilaku, emosi, trauma, relasi, bahkan cara kerja otak. Banyak teori lahir dari penelitian dan observasi panjang tentang manusia. Namun di tengah semua perkembangan itu, aku sering merasa ada sesuatu yang masih kosong. Ada ruang batin manusia yang belum sepenuhnya tersentuh. Barangkali karena manusia bukan hanya tubuh dan pikiran. Manusia juga memiliki jiwa.
Jika aku menjadi dosen psikologi Islam, aku ingin mengajak mahasiswaku menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmiah pertama dan utama dalam memahami manusia. Bukan berarti menolak ilmu psikologi modern, tetapi menghadirkan kembali wahyu sebagai fondasi dalam melihat hakikat manusia secara utuh.
Al-Qur’an bukan hanya kitab hukum dan referensi utama manusia dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an berbicara tentang takut, sedih, harapan, marah, sabar, cinta, kehilangan, bahkan tentang hati yang gelisah dan jiwa yang terluka. Karena itu, ketika membaca Q.S. Yunus ayat 57, aku merasa ayat tersebut begitu dekat dengan dunia psikologi.
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.”
Bagiku, ayat itu seperti penegasan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami sebagai cahaya dalam memahami jiwa manusia.
Psikologi modern mengenal pikiran, emosi, dan perilaku. Sementara Al-Qur’an berbicara tentang qalb, ruh, nafs, dan fitrah. Keduanya sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Justru bisa saling melengkapi. Ilmu membantu manusia memahami mekanisme kehidupan, sedangkan wahyu membantu manusia menemukan makna kehidupan.
Jika aku mengajar mahasiswa psikologi, aku tidak ingin mereka hanya menjadi pribadi yang pandai menganalisis orang lain. Aku ingin mereka memiliki kemampuan memahami dirinya sendiri, karena memahami diri sejatinya juga bagian dari perjalanan mengenal Tuhan yang menciptakannya.
Jalaluddin Rumi pernah berkata: “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
Mungkin karena itu, manusia tidak cukup hanya dikembangkan kecerdasan intelektualnya. Alexis Carrel mengingatkan bahwa salah satu potensi manusia yang sering diabaikan adalah dimensi ruhaniahnya.
Aku ingin ruang kelas bukan sekadar tempat mengejar nilai dan teori, tetapi juga tempat belajar menjadi manusia. Aku ingin mahasiswa berani bertanya: mengapa hati bisa lelah? mengapa manusia merasa hampa? mengapa banyak orang terlihat baik-baik saja, tetapi diam-diam kehilangan arah hidup?
Dan insya Allah, sebagian besar jawabannya telah lama ada di dalam Al-Qur’an.
Aku percaya bahwa generasi mendatang membutuhkan pendekatan ilmu yang lebih utuh. Ilmu yang tidak memisahkan akal dan hati. Ilmu yang tidak menjauhkan manusia dari Tuhannya. Ilmu yang membantu manusia tumbuh tanpa kehilangan makna hidupnya.
Karena pada akhirnya, setinggi apa pun ilmu manusia, jiwa tetap membutuhkan tempat pulang. “… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d: 28)
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan doaku, berkesempatan berbagai pengalaman dengan para mahasiswa.
Takzim,
-@csukardjo
