Hidup Lurus, Tanpa Tanjakan, Turunan dan Belokan

Ilustrasi Jalan Lurus

Bau Menyan...

adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna.  Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.

“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”

Kamis, 5 Februari 2026

Bismillah ….

Sahabat,
bagaimana jalan kehidupanmu?

Katanya, hidup yang lurus itu aman. Aku sempat percaya, sih. Soalnya sejak kecil kita diajarin kalau yang lurus itu benar, dan yang belok itu salah. Sampai suatu hari ada yang nyeletuk, “Chiii…. emang ada orang yang hidupnya lurus?”

Aku mau jawab serius, nih. Bentar buka referensi dulu… eng-ing-eng…. Eeh kagak boleh serius-serius amat yaa… Ini kolom Bau Menyan, bukan sidang skripsi, juga bukan ruang konsultasi berbayar! hahahaha…. Peace, man!

Kujawab gini deh: “Coba lihat Google Maps.” Hahaha… langsung ngakak tuhh diaaa… “Dasar Bau Menyan lu, Chi!”

 

Sahabat, kalau dari sudut pandang Psikologi niih, hidup yang katanya ‘lurus’ itu justru sering bikin orang kaget sendiri begitu ngeliat realita mulai belok. Di situlah regulasi emosi diuji. Bukan pas jalan lagi mulus, tapi pas kita harus ngerem mendadak, atau nyasar tanpa aba-aba!

Albert Bandura menyebutnya sebagai self-regulation: kemampuan mengelola pikiran, emosi, dan perilaku saat kondisi tidak sesuai rencana. Fokusnya bukan marah-marah ke jalannya atau nyalahin belokannya, tapi menyesuaikan diri sambil tetap jalan.

Kalau pakai bahasa coping stress: belokan itu bukan musibah, tapi tuntutan adaptasi.  Ada yang copingnya sehat: tarik napas, mikir ulang, lanjut pelan-pelan. Ada juga yang copingnya klasik: ngeluh, nyalahin hidup, lalu posting status galaaauuu.

Dan di titik ini aku jadi ingat konsepnya Carol Dweck. Orang dengan growth mindset biasanya nggak sibuk nanya, “Kenapa jalannya begini?” tapi lebih penasaran, “Kalau belok, aku bisa belajar apa?”

 

Dalam kerangka Cognitive Behavior Therapy (CBT), yang bikin stres itu sering bukan belokannya, tapi pikiran otomatis kita sendiri: “Ini nggak seharusnya terjadi.” Padahal hidup jarang peduli pada kata ‘seharusnya’.

Hidup yang lurus belum tentu aman.
Kadang justru bikin kita lengah.
Belokan memaksa kita sadar,
bahwa mengatur emosi
lebih penting daripada mengatur arah.

Kalau mau yang lurus, Google Maps memang lumayan jago siihh… tapi kita manusia? Tugasnya belajar belok tanpa kehilangan kendali.

Dan mungkin di situ kita diingatkan, bahwa yang paling paham peta hidup manusia bukanlah kita, tapi Tuhan. Karena Allah Maha Memberi Petunjuk, bahkan lewat jalan yang berliku. Al Hādi. 

So, saat bingung mau ambil jalan lurus atau belok, lewat tanjakkan atau turunan, tarik nafas panjang sebut: Ya Hādi… tahan, lalu embuskan…. Ya Hādi… Ulangi selama 1 menit.

Gimana, siap meluncur sekarang. Gaaaass…!

 

Takzim,
@csukardjo

Yuk, Mulai Healing Dirimu Sekarang!