Bau Menyan...
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
Kamis, 23 April 2026
Bismillah….
Hai… hai… sob, apa kabarmu?
Tau nggak? Kemarin saya memutuskan untuk healing, lho…
Bukan ke Jepang atau pun ke Turki. Bukan juga staycation dengan jendela menghadap city light atau indahnya panorama gunung dan sawah hijau. Saya memilih yang lebih membumi: Kebon Binatang Ragunan.
Dengan hati riang dan semangat anak kecil yang mau lihat jerapah, gajah, kuda nil dan lainnya, saya pun iseng bertanya pada petugas di loket.
“Ada berapa orang yang mau masuk, Bu?” Tanyanya sopan
“Empat. Oh ya mas, ada fasilitas masuk gratis nggak?” tetiba aku ingat sesuatu. Test kepala 6 🤭☺️
Dan ternyata jawabannya:
“Ada, Bu. Untuk usia di atas 60 tahun, asal dengan KTP DKI.”
AHA!
Dalam hitungan detik, tanganku lebih cepat daripada pikiran. KTP langsung kukeluarkan dari dompet seperti kartu sakti. Petugas memandang cukup lama. KTP. Foto. Wajahku. KTP lagi. Wajahku lagi. Dalam hatiku mulai berpikir:
“Apa si mas-mas ini sedang memastikan KTP saya palsu…. atau mereka-reka skin care apa yang saya pakai?” 🙈😄
Dan hasilnya…
LOLOS. GRATIS. ALHAMDULILLAH.
Masuklah saya dan tiga kawan lainnya dengan hati berbunga-bunga. Sampai kemudian saya melihat papan harga.
Tiket masuk: Rp4.000
Diam. Hening.
Ada sesuatu yang terasa bergeser di dalam jiwa.
Bukan dompet.
Karena memang tidak keluar uang.
Tapi… harga diri. Ups! Bau menyan! 😅😁🤪🤣🤣🤣
Saya mendadak merasa terlalu bersemangat memperjuangkan sesuatu yang nilainya bahkan kalah dari harga es teh jumbo. Di titik itulah saya sadar, kadang kita bukan sedang mengejar gratisnya. Kita sedang menikmati validasi bahwa usia juga bisa membawa privilege.
Ini lucunya psikologi manusia. Saat muda, kita bangga terlihat dewasa. Saat dewasa, kita bangga terlihat muda. Begitu kepala enam, kita bahagia saat umur akhirnya “berguna” untuk diskon. Hihihi…🤭
Dan jujur saja, ada kepuasan batin yang sulit dijelaskan ketika usia berubah menjadi fasilitas publik. Namanya mungkin bukan krisis usia. Ini lebih tepat disebut sebagai self-esteem dengan subsidi pemerintah daerah. 🤣
Takzim,
–@csukardjo
