Bau Menyan...
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
Senin, 6 April 2026
Bismillah ….
Hola! Semangat siaaang… ❣️
Apa kabar sahabat?
Kamu pernah ngeh nggak sih, kalau ada satu jenis kesalahpahaman yang sering berbau menyan di ruang-ruang konseling, pengajian, bahkan grup WhatsApp keluarga? Kalimatnya kira-kira begini: “Saya orang baik, masa ditolak?”
Nah, asap menyan mulai mengepul deeeh. Kerasa nggak? Seolah-olah kebaikan adalah tiket otomatis menuju pelaminan. hihihihi…
Padahal, menurut saya nih, soob. Baik itu syarat penting, tapi bukan jaminan berjodoh. Sama seperti teh hangat dan kopi pahit. Dua-duanya nikmat. Dua-duanya baik. Tapi belum tentu cocok diminum oleh orang yang sama. Begitu juga kita, manusia.
Misal nih, Anda seorang perjaka, usia matang, mapan, niat menikah. Lalu ada anak gadis, usia matang pula, yang sudah menata hidup, hati, dan ritme hari-harinya dengan tenang, juga siap dinikahi. Keduanya baik. Namun ketika proses saling mengenal berjalan (ta’aruf), si jelita berkata lirih:
“Ndak, saya tidak tertarik.”
Selesai.
Sesederhana itu. Salahkah si gadis?
Yang sering jadi masalah bukan penolakannya, tetapi reaksi setelahnya.
Lingkungan mulai berbisik:
“Lho, beliau baik kok…”
“Usia segini masih pilih-pilih?”
“Jangan menolak rezeki…”
iiiihh… pengen gue tampol deh! Eehh… hehehe…
Nah, di sini menurut saya psikologi dan Al-Qur’an perlu duduk bareng. Buka Al-Quran yuuk… Allah Subḥānahu Wataʿālā sendiri telah memberi batas yang sangat jelas: “Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa…” (QS. An-Nisa: 19)
Menurut saya ayat ini menjadi nafas penting bahwa perempuan tidak boleh dipaksa. Bahkan pada konteks pernikahan, Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa seorang janda harus dimintai persetujuan secara langsung.
Jadi, ketika seorang perempuan berkata:
“Saya tidak tertarik”.
Maka, itu bukan pembangkangan. Itu adalah hak, martabat, dan kejujuran hati. Karena rumah tangga tidak dibangun hanya dari label “sama-sama orang baik”.
Coba kita ceki-ceki lagi yuuk. Al-Qur’an memberi ukuran yang lebih dalam niih…. “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21)
Perhatikan kata kuncinya:
litaskunuu ilaiha… agar kamu merasa tenteram kepadanya.
Bukan sekadar: baik, mapan, saleh, cocok di mata orang lain.
Tetapi: apakah bisa bikin hati menjadi tenang?
Ada pernikahan yang secara CV sangat baik, tetapi hati justru sesak.
Ada orang yang sangat baik, tetapi tidak menghadirkan sakinah.
Dan tidak semua yang baik harus menjadi pasangan hidup.
Dalam psikologi relasi, pernikahan membutuhkan: kerelaan dua pihak, rasa aman, kecocokan ritme hidup, kesiapan emosi, ketenangan afektif.
Kadang seseorang sangat baik, sangat saleh, sangat terhormat… tetapi setelah istikharah dan hati tetap berkata: “Bukan.”
Dan “bukan” itu bukan dosa.
Bukan durhaka.
Bukan penghinaan.
Itu hanya bentuk kejujuran.
Menurut saya nih, guys…
Memaksakan pernikahan tanpa kerelaan justru menghilangkan ruh ayat surah Ar-Rum tadi… sakinah, mawaddah, rahmah.
Maka, kepada hati yang ditolak, Insya Allah bisa menerima dengan bermartabat yaaa. Dan kepada hati yang menolak, yuuk… belajar berkata jujur tanpa rasa bersalah. Jangan takut salah setelah ikhtiar dan istikharah. Sebab jodoh bukan lomba siapa paling baik. Jodoh adalah tentang siapa yang menghadirkan ketenangan.
Hmmmm… di ujung malam, saat bau menyan mulai memudar, kita belajar satu hal: baik itu belum tentu jodoh, sama-sama baik belum tentu saling menenangkan. Ya As-Salām…, hadirkan sakinah pada setiap hati yang sedang memilih dan yang sedang melepaskan.
Takzim,
–@csukardjo
