Bau Menyan...
adalah kolom psikologi humor karya Chichi Sukardjo, seorang Penulis & Konselor Psikologi berbasis Asmaul Husna. Ditulis tiap Senin atau Kamis, membahas trauma, fobia, dan self-healing dengan senyuman serta sentuhan Asmaul Husna di setiap akhir tulisan.
“Sebelum hidup menertawakanmu, tertawalah lebih dulu tipis-tipis…”
Senin, 13 April 2026
Bismillah….
Hai… hai… sob, apa kabarmu?
Sudahkah mendengar suara hatimu hari ini?
Kamu tahu nggak, ada satu fase hidup manusia yang sering tidak diajarkan di kampus, tidak dibahas di arisan, dan jarang masuk khutbah Jumat. Namanya: empty nest syndrome.
Secara psikologis, ini adalah kondisi ketika rumah tiba-tiba terasa kosong setelah anak-anak pergi kuliah, menikah, atau tinggal di kota lain. Yang hilang bukan hanya orangnya. Yang ikut pergi sering kali adalah peran, ritme, dan makna diri.
Dulu, pagi heboh dimulai dengan teriakan kecil:
“Bangun, Nak! Telat, ayoo… sekolah!”
“Sarapan duluuu…!”
“Jangan lupa, rapikan tempat tidur!”
“Bawa bekal makanmu…”
Sekarang yang terdengar hanya bunyi pintu kulkas dan notifikasi HP.
Pada sebagian ibu, fase ini bukan sekadar sepi. Ia bisa berubah menjadi loneliness, loss of identity, bahkan suppressed emotion. Yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan ruang untuk mengekspresikan pikiran dan emosi secara aman. Psikolog menyebutnya sebagai emotional inhibition atau self-silencing, alias terlalu lama menahan suara diri sendiri.
Apalagi niiih… bila selama bertahun-tahun hidup bersama pasangan yang dominan atau otoriter. Sehingga suara-suara dari dalam bilik jiwa terdalam tidak pernah keluar:
“Aku lelah.”
“Aku tidak setuju.”
“Aku ingin didengar.”
“Aku juga punya kebutuhan.”
Semua disimpan rapi. Rapi sekali. Sampai tubuh kemudian mengambil alih suara batin. Tenggorokan serak, suara mengecil, pita suara menebal. Psikologi menyebut tubuh seperti ini sebagai somatization—emosi yang tidak menemukan kata, lalu mencari jalan lewat tubuh.
Sahabat, saat berkonsultasi dengan dokter dan melihat hasil laringoscopi, terlihat ada benjolan di pita suara. Kadang yang benjol itu bukan hanya pita suara, melainkan kesedihan yang terlalu lama tidak punya tempat bicara. Jangan khawatir yaaa! Al-Qur’an mengingatkan dengan sangat lembut:
“Fa inna ma’al ‘usri yusrā. Inna ma’al ‘usri yusrā.”
Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Ayat ini bukan sekadar janji tentang masalah yang selesai. Kadang kemudahan itu hadir ketika seseorang akhirnya berani memberi nama pada lukanya. Bukan lagi sekadar “aku baik-baik saja”, tetapi:
“Aku kesepian.”
“Aku marah.”
“Aku merasa tak lagi dibutuhkan.”
Dan dari pengakuan itulah, suara mulai pulang.
Masih ingat 1st Aid Asmaul Husna?
Yuk, letakkan tangan di area tenggorokan mu. Bukan tenggorokan tetanggamu yaaa! hihihi….
Tarik napas perlahan sambil berbisik lembut hatimu… Ya Lathif…
Tahan…. Ya Wadud…
Lepaskan…. Ya Sami…
Ya Latif… Ya Wadud… Ya Sami’
Lalu tanyakan dirimu: “Apa suara batinku yang selama ini belum pernah kudengar?”
Sahabat, kadang penyembuhan dimulai bukan dari berbicara kepada orang lain, tetapi dari keberanian mendengar diri sendiri.
Takzim,
–@csukardjo
